Tesis ketergantungan berlandas kerangka pemikiran Paul Baran, bahwa penyebab keterbelakangan Negara-negara Amerika Latin adalah eksploitasi pihak asing sebagai akibat hubungan ekonomi yang sifatnya tidak adil. Tesis ini dilengkapi oleh para pengkriktiknya dengan analisis hubungan antarkelas dalam proses ekonomi dalam negeri yang telah berandil menerbelakangkan massa rakyat. Eksploitasi pihak asing terhadap massa rakyat di Negara terbelakang telah dilakukan atas bantuan “kelas komprador.” Dari sinilah kesatuan analisis tersebut terbentuk menjadi “Tesis Ketergantungan dan Keterbelakangan” (Dependency and Underdevelopment Thesis).
Pemikiran Paul Baran
Diawali pemodal asing yang melakukan investasi ke Negara Dunia Ketiga, yang oleh pihak dalam negeri diharapkan akan mampu menaikkan pendapatan nasional dan memberi efek positif bagi perkembangan ekonomi nasional. Namun dapat terbaca bahwa tujuan asasi para pemodal itu tak lain adalah menyedot keuntungan Negara miskin dimana ia menanamkan investasinya. Alasannya : Pertama, harapan naiknya pendapatan nasional tidak akan dapat dinikmati oleh sebagian besar rakyat, tapi hanya segelintir pihak yang beroleh keuntungan dari hasil eksploitasi. Kedua, efek ekonomi yang timbul justru akan menggeser orientasi rakyat baik dalam bertransaksi (yakni dari hubungan paternalistic kepada pasar) maupun dalam produksi-pemasaran (yaitu dari usaha mencukupi dan memenuhi kebutuhan dalam negeri kepada pemenuhan pasaran luar negeri. Konsekuensi yang timbul, sistem ekonomi rakyat Negara tersebut lantas terkait langsung dengan sistem ekonomi kapitalis di luar negeri dengan berbagai gejolaknya.
Perubahan orientasi sistem ekonomi paternalistic kepada sistem kapitalis rasionalis pasar sesungguhnya dapat menjadi langkah awal untuk transformasi masyarakat kearah kemajuan lebih tinggi. Hanya saja, eksploitasi penguasa feudal tidaklah sekejam eksploitasi kapitalis. Eksploitasi inilah yang menghadang langkah itu untuk maju lebih lanjut. Belum lagi korupsi dan ketidakadilan yang mengiring tiap tingkat struktur pemerintah yang mengabdi pada kepentingan kapitalis internasional.
Reaksi atas hal ini sebenarnya sempat muncul dari golongan kelas menengah dan pengusaha nasional, tapi mereka tidak mampu mengadakan perubahan. Sebabnya : Pertama, golongan ini lemah karena tidak mewarisi kekuatan ekonomi yang melahirkan kepercayaan diri untuk memimpin masyarakatnya. Kedua, golongan ini hakikatnya masih berasimilasi dengan nilai-nilai pihak penguasa dan dengan vested interest dalam situasi status quo yang berjalan. Sehingga mereka tidak ingin menyatukan diri dengan rakyat miskin untuk suatu revolusi sosial. Mereka akhirnya “terpaksa” menjadi “antek-antek” penguasa feudal dan “kaki tangan” pihak colonial. Mereka lalu memandang bangsa dan negerinya dari sudut kacamata kolonial. Mereka bahagia menjadi kelompok terasing dari sebagian besar bangsanya yang melarat.
Pengusaha nasional disini tampil sebagai partner pemodal asing. Pelaku pelengkap untuk memudahkan operasi perusahaan-perusahaan asing melakukan eksploitasi. Akhirnya mereka turut memperkuat aliansi golongan kapitalis asing dengan golongan feodal pribumi. Menyatunya ciri-ciri terburuk kapitalisme dan feodalisme inilah yang menjadi penghalang utama pembebasan rakyat untuk meraih perkembangan ekonomi dan sosial.
Jikalaupun suatu revolusi berhasil mengenyahkan “kaum penjajah asing dan para kolaboratornya”, namun tanpa disertai dengan menjungkirbalikkan stelsel sosial yang ada (yang notabene feodal), tetap takkan menjanjikan pembebasan bangsa kepada arah yang lebih adil dan manusiawi. Diatas landasan sosial (stelsel sosial) yang ada, kebijakan pembangunan ekonomi akan ditumpukan pada program pertumbuhan produksi untuk mengimbangi pertambahan penduduk. Tapi, karena produktivitas-batas sektor pertanian mendekati atau bahkan nol (zero), kebijakan diutamakan pada sektor industri dan sektor ekstraktif.
Sektor industri yang berkembang kemudian justru yang memproduksi barang-barang mewah atau elit karena demandnya efektif. Industri barang konsumsi lainnya berkembang dari hasil modal asing atau campuran domestic. Ini akan berimbas mematikan industri rakyat dengan produksi sejenis. Industri yang mampu berkembang kemudian menggurita yang melahirkan monopoli dan oligopoly yang jelas akan merintangi masuknya partisipan (yang berarti competitor) baru dalam suatu jenis industri. Adapun keuntungan yang ada, bukannya untuk melakukan investasi baru yang berefek penyerapan tenaga kerja atau perluasan spesialisasi masyarakat, tapi malah untuk konsumsi barang mewah.
Di sector ekstraktif, karena sebab kendala modal dan teknologi di pihak pengusaha domestic, dominasi akhirnya dipegang pengusaha asing. Dan dari sector inipun, ternyata efek peningkatan pendapatan rumah tangga dan penyerapan tenaga kerjanya relative sangat kecil.
Jadi ringkasnya, dalam proses ekonomi tersebut, (1) pemodal asing; (2) pengusaha domestic; dan (3) elit penguasa, bekerja sama untuk mempertahankan dan memperkuat status quo, yaitu struktur sosial dan stelsel sosial yang ada. Ketiga serangkai tersebut senantiasa akan menyabotase dan berupaya menggagalkan : (1) tiap kebijakan ekonomi kerakyatan yang bertujuan merubah struktur sosial dan re-alokasi sumber-sumber produktif; (2) tampilnya pemimpin yang bervisi dan bermisi kerakyatan. Dari itu, perubahan harus dilakukan dengan menghancurkan “status quo” tersebut demi memungkinkan negara-negara yang terbelakang memasuki jalan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial.
Pemikiran Gunder Frank
Negara-negara dapat dibagi dalam dua kelompok besar : (1) Metropolis maju (developed metropolitan countries); (2) Satelit terbelakang (satellite underdeveloped countries). Dengan hubungan ekonomi demikian menjadikan aspek utama perkembangan system kapitalis dalam skala internasional. Tesis ini otomatis menolk tesis Arthur Lemi tentang dual society dan dual economies yang memisahkan sector modern dan sector tradisional di Negara miskin sebagai memiliki perjalanan sejarah berbeda dan tidak bersangkut paut.
Pada konteks ini, terdapat 4 (empat) hipotesis pokok : (1) Dalam struktur metropolis dan satelit, pihak metropolis akan berkembang pesat, sedang satelit akn menuju pada keterbelakangan yang terus-menerus. Perekembangan yang nampak di permukaan hakikatnya semu dan rapuh Karena ketergantungan pada pihak luar. (2) Negara-negara miskin yang kini jadi satelit, dapat alami perkembangan ekonomi yang sehat dan mengembangkan industri yang otonom jika kaitan dengan metropolis dunia tidak ada atau sangat lemah. (3) Kawasan-kawasan yang sekarang sangat terbelakang, dulunya dalam situasi system feudal merupakan kawasan yang punya kaitan kuat dengan metropolis dari system kapitalis internasional. Atau merupakan kawasan terlantar akibat konjunktur dalam perdagangan internasional bahan mentah. (4) Pertumbuhan beberapa kawasan maju saat ini bukanlah karena proses penerapan system kapitalis asing dahulu, tapi karena kawasan-kawasan tersebut memang sudah berkembang kukuh berdasar dinamikanya sendiri dalam memberi respon-respon terhadap kesempatan-kesempatan yang timbul.
_________
Source:
Sritua Arief dan Adi Sasono. Ketergantungan dan Keterbelakangan : Sebuah Studi Kasus. Jakarta : Sinar Harapan dan Lembaga Studi Pembangunan, 1984.

