Asal-usul kaum Sufi mulanya bermaksud baik. Mereka hendak memerangi hawa nafsu, dunia dan setan. Tapi terkadang mereka tergelincir kepada ghuluw (berlebih-lebihan) dengan menempuh jalan yang tidak digariskan oleh agama. Diantara mereka ada yang mengharamkan kepada dirinya sendiri sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, menyumpahi harta, tidak mau lagi mencari rizki, berkhalwat membelakangi kehidupan dunia. Tasauf demikian tidaklah berasal dari pelajaran Islam. Zuhud dalam Islam bukannya melemahkan, tapi sebaliknya, memupuk semangat juang, rela berkorban, giat bekerja. Sehingga ketika lawan menyerang, ada senjata tajam yang terhunus untuk menangkisnya.
Ketika mula-mula timbul, seperti zaman Nabi saw, semua orang bisa menjadi Sufi tanpa harus memakai pakaian tertentu, bendera tertentu, atau mengadu kening dengan kening sang guru. Kata Junaid, “Tasauf ialah keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji.” Maka, Tasauf sudah seharusnya ditegakkan kembali pada maksudnya semula, yaitu membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi; menekan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi syahwat yang berlebih dari keperluan demi kesentosaan diri.
Sebab-sebab mencapai kebahagiaan itu sangat banyak, namun kita manusia suka mencari juga yang lain. Dia ada dalam tangan kita, namun kita mencarinya pada apa yang ada di tangan orang lain, karena yang di tangan orang lain memang sering tampak kelihatan lebih indah. Sayyid Rasyid Ridha berkata, “Zuhudlah kepada dunia supaya Allah cinta kepadamu, dan zuhud pulalah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya merekapun suka kepadamu.” K.H. Mas Mansyur mengingatkan, “80 % didikan Islam kepada keakhiratan dan 20 % kepada keduniaan. Tetapi kita telah lupa mementingkan yang tinggal 20 % lagi itu sehingga kita hina.”
______________
Source:
Hamka. Tasauf Modern. Jakarta : Pustaka Panjimas, 1983.