Pelajaran Pertama :
Tiap situasi berikut segala kemungkinannya selalu melahirkan tantangan-tantangan atau persoalan-persoalan yang khas yang kerap memerlukan penanganan yang khusus pula.
Pelajaran Kedua:
Rakyat dengan senang hati mengangkat senjata untuk mengganti pemimpin mereka dengan harapan akan beroleh kehidupan yang lebih baik. Maka pemimpin yang baru sedapatnya tidak melakukan hal-hal yang tidak beralasan atau tidak perlu yang dapat menyakiti hati rakyat, sehingga dibenci. Justru sedapatnya ia menjalin persahabatan dengan hati rakyat agar dicintai.
Pelajaran Ketiga:
Agar berhasil dalam penguasaan daerah taklukan secara sempurna, perlu dilakukan : (1) tumpas habis keluarga penguasa lama berikut kaki-kaki tangannya; (2) jangan membuat perubahan-perubahan drastic entah itu dalam hokum atau system perpajakan yang ada agar rakyat setempat dapat hidup tenang dan merssa tak terganggu dengan adat (tradisi)nya; (3) upayakan penguasa baru membangun kontak langsung dengan rakyat, atau paling tidak usahakan rakyat merasa dapat perhatian penuh dan berkomunikasi dengan pemimpinnya; (4) perkuat aspek-aspek persamaan yang ada (entah itu etnis, bahasa, hokum, agama, tradisi, atau lainnya) dan perkecil bahkan eliminir aspek-aspek perbedaan yang ada, sehingga terbangun rasa kesatuan.
Pelajaran Keempat:
Rekrut kaki-kaki tangan yang loyal dari orang-orang setempat sebagai bagian dari kewaspadaan yang tinggi. Hal ini akan memudahkan pemantauan terhadap gerakan-gerakan perlawanan yang mungkin muncul dari orang-orang penguasa lama hingga secepatnya dapat diatasi. Namun jangan sampai mereka diberi wewenang berlebih atau jabatan yang memungkinkan mereka berakses kepada rakyat dan mengendalikan bahkan menyusun kekuatan perlawanan baru.
Pelajaran Kelima:
Orang cenderung membalas dendam untuk penderitaan kecil, tapi tidak untuk penderitaan yang besar. Jadi jangan segan bertindak hingga batas yang meyakinkan bahwa musuh takkan sanggup lagi melawan atau akan takut melalukan balas dendam.
Pelajaran Keenam:
Bangun hubungan baik dengan penguasa-penguasa luar terutama yang berbatasan dan berpengaruh pada wilayah kekuasaan dalam negeri agar lawan-lawan yang lari tidak akan meminta bantuan mereka untuk membalas dendam. Juga jangan sampai memasukkan kekuatan luar yang kuat ke dalam negeri, ini akan menjadi bumerang.
Pelajaran Ketujuh:
Tetaplah waspada dan antisipatif sekalipun krisis nampak mulai mereda. Ingatlah bahwa kesulitan tidak hanya muncul saat ini saja, tapi selalu dan akan muncul pula di waktu-waktu mendatang.
Pelajaran Kedelapan:
Jangan pernah biarkan persoalan sampai berkembang menjadi tak terkendali. Jangan pernah segan untuk memulai perang jika itu memang yang harus dilakukan. Jangan bodoh, menunda perang –yang berarti memberi kesempatan lawan untuk memperkuat atau memperbesar diri—hanya akan menguntungkan pihak lawan.
Pelajaran Kesembilan:
Sebuah simpulan umum : Barangsiapa mengusahakan orang lain memegang kekuasaan, ia menghancurkan diri sendiri, karena kekuasaan itu dibangun entah dengan tipu muslihat entah dengan paksaan. Dan kedua hal itulah yang sepatutnya menimbulkan kecurigaan pada orang yang telah menjadi berkuasa.
Pelajaran kesepuluh:
Jika ingin lebih berkuasa, ingin beroleh yang lebih banyak lagi, ukur kemampuan diri. Yakinkan bahwa perhitungan memadai jika suatu upaya dilakukan hanya akan menuai kesuksesan. Ingat, orang hanya memuji keberhasilan, sebaliknya akan mengutuk kegagalan dan kesalahan-kesalahan.
Pelajaran Kesebelas:
Bedakan antara makna perebutan dan penguasaan. Kemudahan pada tahap perebutan bukanlah jaminan bagi kemudahan pada tahap penguasaan. Sebaliknya, bias jadi kesulitan tahap perebutan dapat berbuah kemudahan pada tahap penguasaan. Ini kerapkali dipengaruhi oleh karakteristik daerah atau rakyat taklukan. Jelasnya, pastikan bahwa perebutan hanya akan berakhir dengan penguasaan.
Pelajaran Kedua Belas:
Untuk memerintah negeri yang sudah terbiasa hidup bebas dengan hokum mereka sendiri, ada 3 (tiga) cara menguasainya secara aman : (1) Menghancurkannya; (2) Secara pribadi bermukim di negeri tersebut; (3) Mendirikan kepemimpinan boneka (oligarki) yang mengikat jaminan untuk tetap kooperatif dan sadar bahwa tanpa persahabatan dan kekuatan dari penguasa yang menciptakannya, ia takkan bertahan lama. Dari ketiganya, yang teraman adalah penghancuran. Karena siapapun yang menjadi penguasa negeri yang terbiasa bebas dan tidak menghancurkannya, dapat dipastikan ia sendiri akan dihancurkan. Karena rakyat negeri semacam itu, punya ingatan besar akan kemerdekaannya sehingga lebih besar kebenciannya serta nafsunya untuk membalas dendam.
Pelajaran Ketiga Belas:
Bersikaplah seperti seorang ahli memanah. Ia harus membidik agak lebih tinggi dari sasaran, bukan untuk memanah tempat tinggi tersebut, tapi agar anak panah dapat tepat mengenai sasaran yang lebih rendah. Demikianlah, orang bijak harus selalu mengikuti jejak orang-orang besar dan meniru orang-orang terkemuka. Jika keberaniannya tidak dapat dibandingkan dengan mereka, setidaknya ia sudah bersikap agung.
Pelajaran Keempat Belas:
Jika berkemampuan, manfaatkanlah dengan baik setiap peluang untuk memerintah dan berkuasa. Manusia yang tampil sebagai penguasa karena kegagahberaniannya –artinya, karena factor kemampuan pribadi–, akan lebih handal dan mudah mempertahankan kekuasaannya daripada mereka yang berkuasa karena factor hadiah atau pengaruh dari orang lain.
Pelajaran Kelima Belas:
Ingatlah, hal tersulit dan paling berbahaya bagi penguasa baru adalah melaksanakan prakarsa perubahan terhadap undang-undang atau peraturan yang ada. Hal ini karena pertimbangan : (1) Orang-orang lama yang mengalami keuntungan dalam sistem hokum dan tata kehidupan lama akan menjadi musuhnya; (2) Orang-orang yang kemungkinan akan beroleh keuntungan di bawah sistem yang baru hanya akan memberikan dukungannya setengah-setengah.
Pelajaran Keenam Belas:
Pada dasarnya, rakyat itu mudah untuk berubah sikap karena adanya anjuran-anjuran tertentu, tetapi sulit untuk menjamin bahwa mereka akan berpegang teuh pada anjuran tersebut. Karena itu, segala kekuatan harus dipersiapkan sehingga ketika rakyat tidak lagi mau percaya, paksaan secara efektif dapat dilakukan agar mereka percaya. Ingatlah sejarah, bahwa hanya para nabi yang lengkap bersenjatalah yang berhasil menaklukkan, sementara nabi tanpa senjata hanya akan mengalami kekecewaan.
Pelajaran Ketujuh Belas:
Bagi seorang penguasa baru, tidak ada contoh yang lebih meyakinkan daripada contoh-contoh yang telah diberikan oleh Sang Pangeran Valentino, yaitu Cesare Borgia putra Paus Alexander VI, tentang bagaimana ia bertindak dan memandang perlu untuk mengamankan dirinya sendiri terhadap musuh-musuhnya : (1) Ia menjalin persahabatan; (2) Menaklukkan entah melalui kekerasan atau tipu muslihat; (3) Menjadikan dirinya dicintai dan ditakuti oleh rakyat; (4) Ditaati dan disegani oleh serdadunya; (5) Bertekad menghancurkan orang-orang yang dapat atau hendak merugikannya; (6) Memperbaiki adat-istiadat; (7) Bertindak kecam tetapi dicintai rakyat; (8) Bertindak dengan kebesaran hati namun tetap murah hati; (9) Menghancurkan pasukan-pasukan yang tidak setia dan menciptakan pasukan yang terpercaya; (10) Memelihara hubungan dengan para raja sehingga mereka akan memberi bantuan padanya atau bertindak hati-hati kalau mau menyerangnya. Satu-satunya kesalahan besarnya adalah : Membiarkan salah satu Kardinal, yang pernah dilukai hatinya olehnya untuk dinobatkan menjadi Paus (Paus Julius II), atau menjadi seseorang yang akan membuat dirinya takut terhadapnya. Jadi ingatlah baik-baik : Orang sangat mungkin menyerang entah karena ia takut atau entah karena rasa bencinya. Maka siapapun yang yakin bahwa keberhasilan seseorang mencapai kedudukan tinggi akan mampu menghapus rasa dendam lama seseorang tersebut, adalah menipu diri sendiri. Bukankah inilah kesalahan yang telah menghancurkan Sang Pangeran ?
Pelajaran Kedelapan Belas:
Sejarah hanya mengenal 2 (dua) cara untuk menjadi penguasa : (1) Dengan car jahat dan keji; (2) Dengan cara atas persetujuan sesama warga masyarakat. Dan kedua cara terebut sama sekali tidaklah dapat disebut karena nasib baik (kemujuran) ataupun kemampuan. Keduanya hanya dapat dicapai melalui perjuangan yang penuh kesulitan dan bahaya.
Pelajaran Kesembilan Belas:
Kejahatan dapat digunakan dengan baik untuk meraih kekuasaan, hanya jika hal itu terjadi sekali saja, kemudian dilanjutkan demi keselamatan rakyatnya. Karena kejahatan atau kekejian yang berlangsung berlarut akan mengoyak ketenangan pikiran rakyat dan menimbulkan perlawanan. Kekerasan yang sekali terjadi akan segera dilupakan penderitaannya oleh rakyat dan karenanya tidak lagi menentang jika penguasa baru perlahan menunjukkan kebaikannya kepada rakyat apalagi menunjukkan pula sikap hidup kebersamaannya dengan rakyat. Sadarilah, kekejian dengan disertai keberanian dan kekuatan yang memadai mungkin menghasilkan kekuasaan yang berarti, tetapi tanpa disertai belas kasih dan tindakan relijius hal itu bukanlah tindakan kepahlawanan. Dan sekalipun ia kemudian menjadi penguasa, hal itu tidak menjadikannya terhormat dan bukan pula orang besar.
Pelajaran Keduapuluh:
Camkan selalu : Seorang penguasa harus hidup bersama dengan rakyat ! Jaga persahabatan dengan rakyat ! Ambil hati mereka ! Mereka tidak akan menuntut apapun kecuali keinginan untuk tidak ditindas, jadi lindungi mereka ! Ini penting karena dukungan mereka sangat dibutuhkan terutama ketika negeri dalam keadaan bahaya. Adapun dengan para bangsawan, seorang penguasa dapat hidup tanpa mereka. Karena ia selalu bias (bahkan setiap hari) untuk menciptakan atau menghapuskan para bangsawan dengan meningkatkan atau mengurangi pegnaruh mereka menurut sehendak hatinya. Bagaimanapun, rakyat akan selalu lebih jujur dalam cita-cita mereka daripada para bangsawan (elit).
Pelajaran Keduapuluh Satu:
Tindakan apa yang tepat untuk para bangsawan ? Disini ada 2 (dua) pertimbangan : (1) Jika mereka sangat tergantung dengan dengan kekuasaan yang ada, tidak tamak, maka haruslah dihormati dan dicintai; (2) Jika mereka tetap independen terhadap kekuasaan, perhatikan : a) Jika hal itu karena kekerdilan jiwa mereka dan tidak punya keberanian, maka manfaatkanlah mereka sebaik-sebaiknya untuk tetap merasa takut dan menghormati penguasa yang ada; b) Jika hal itu karena sengaja dan berdasar ambisi untuk tetap ingin independen, maka itu adalah indikasi bahwa mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri. Disini, penguasa harus mawas diri dan wajib memandang mereka sebagai musuh yang terselubung.
Pelajaran Keduapuluh Dua:
Penguasa hendaknya tidak mempunyai sasaran atau kesibukan lain kecuali mempelajari perang dan organisasi serta disiplinnya, karena itulah satu-satunya SENI yang dibutuhkan seorang pemimpin. Kemampuan ini tidak hanya dapat mempertahankan mereka yang lahir sebagai raja, tetapi kerap mengantarkan orang-orang biasa mencapai kedudukan tersebut. Sebaliknya, penguasa yang lebih mementingkan kemewahan hidup daripada senjata (angkatan perang) akan hancur.
Pelajaran Keduapuluh Tiga:
Seorang penguasa jika ingin mempertahankan kekuasaannya, ia harus mempelajari bagaimana bertindak secara tidak ksatria untuk dapat memanfaatkan atau tidak memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan. Ia harus mampu mengesampingkan hal-hal yang imajiner dan hanya menunjuk pada hal-hal yang sungguh-sungguh ada. Jika seseorang ingin bertindak secara terhormat dalam tiap langkahnya, pasti ia akan kecewa, karena ternyata ia berada di antara begitu banyak orang yang tidak berjiwa ksatria.
Pelajaran Keduapuluh Empat:
Tentu semua akan setuju bahwa akan terpuji bila seorang penguasa memiliki semua sikap yang dipandang baik (ideal). Tapi karena kodrat manusia, seorang penguasa harus cukup bijaksana untuk menghindari skandal sehubungan degnan keburukan-keburukan perilaku tertentu yang dapat menghancurkan negara. Jika tidak mungkin, ia tidak boleh takut sedikitpun menghdapi tuduhan melakukan kejahatan kalau dipandangnya bahwa “kejahatan” itu memang perlu dilakukan demi keselamatan negara. Pada akhirnya rakyat akan melihat bahwa ia telah membuktikan dirinya lebih welas asih dengan melakukan sebentuk tindakan kekejaman yang perlu yang hanya menyangkut pribadi-pribadi demi kepentingan orang banyak, daripada mereka yang terlalu bermurah hati dengan membiarkan kekacauan terjadi yang akan menimbulkan pembunuhan atau perampokan dan sejenisnya yang merugikan lebih banyak bahkan seluruh masyarakat.
Pelajaran Keduapuluh Lima:
Sang penguasa harus membuat dirinya ditakuti sedemikian rupa oleh rakyatnya. Jikalaupun ia tidak dapat dicintai rakyatnya, setidaknya ia tidak dibenci. Dan rasa takut memang sungguh cocok dengan tidak adanya rasa benci. Adapun untuk menghindari kebencian, terutama jauhilah harta dan isteri-isteri para bawahan. Sebab, orang akan lebih mudah melupakan kematian leluhurnya daripada kehilangan warisan leluhurnya.
Pelajaran Keduapuluh Enam:
Perjuangan dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara : (1) Cara yang wajar bagi manusia, yaitu melalui hokum; (2) Cara bagi binatang, yaitu melalui kekerasan. Tapi karena cara pertama terbukti kerapkali tidak memadai, orang lalu memakai cara kedua. Dan seorang penguasa harus tahu bagaimana menggunakan dengan baik cara-cara binatang dan manusia. Ia tidak dapat hidup tanpa keduanya (diilustrasikan seperti menjadi setengah manusia, setengah binatang; atau manusia berkepala binatang). Disini, penguasa harus bias menjadi seperti singa sekaligus rubah. Singa tidak bias membela diri terhadap perangkap, karena itu harus seperti rubah yang cerdik mengetahui adanya perangkap. Sedangkan rubah tidak bias membela diri dari serigala, karenanya ia harus pula menjadi singa yang mampu menakuti serigala.
Pelajaran Keduapuluh Tujuh:
Perhatikan 5 (lima) sifat kebaikan berikut : (1) penuh pengertian; (2) dipercaya kata-katanya; (3) matang atau dewasa; (4) baik budi; (5) alim. Dari kelimanya, tidak ada hal yang paling penting kecuali dua sifat yang terakhir. Dan penguasa tidak perlu memiliki semua sifat baik itu, tetapi cukup bersikap seakan-akan (seolah-olah) memilikinya. Karena itu, disposisinya harus luwes, berubah seirama dengan bimbingan keberuntungan dan keadaan. Ia harus mengetahui bagaimana bertindak jahat jika diperlukan. Orang umumnya menilai sesuatu lebih berdasarkan apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka rasakan. Seorang penguasa yang bijak tidak harus memegang janji yang akan merugikan diri sendiri. Ia seharusnya untuk tidak akan pernah kehabisan alasan demi menutupi ketidaksetiaannya. Ia harus mengetahui bagaimana menjadi pembohong dan penipu ulung. Lihat, betapa seorang penguasa saat ini, ia tidak pernah berkhotbah kecuali tentang perdamaian dan kesetiaan, padahal dialah musuh dari dua hal tersebut. Seandainya ia pernah menghormati salah satu dari keduanya, pasti ia akan berkali-kali kehilangan negara dan kedudukannya.
Pelajaran Keduapuluh Delapan:
Seorang penguasa perlu memberitahukan kepada semua orang bahwa dirinya tidak akan marah jika mereka mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi jika semua kebenaran disampaikan, ia tidak akan dihormati lagi. Karena itu, jalan tengahnya, ia harus memilih orang-orang bijaksana yang terpercaya yang khusus diberinya izin untuk menyatakan kebenaran kepadanya yang itupun sebatas masalah yang ditanyakan saja (diperlukan olehnya). Untuk konteks ini, penguasa harus menyingkirkan para penjilat, karena dapat menjerumuskannya kepada langkah kebijakan yang salah.
Pelajaran Keduapuluh Sembilan:
Machiavelli berkata, “Saya berpendapat bahwa benar nasib mujur menguasai separuh dari perbuatan-perbuatan kita, tetaopi separuh tindakan lainnya dibiarkan untuk kita atur sendiri. Hal ini saya umpamakan seperti sungai berarus deras, kalau meluap membanjiri dataran sekitarnya, merobohkan pohon dan bangunan, menghanyutkan tanah dan menumpuknya di tempat lain. Setiapo orang menghadapi segala keganasannya tanpa kemungkinan untuk melawan. Tetapi walaupun demikian sifatnya, tidak berarti bahwa kalau sungai mengalir dengan tenang orang lalu tidak dapat mengambil langklah-langkah pengamanan, membangun tanggul dan saluran-saluran sehingga kalau sungai banjir air dapat mengalir lewat kenal atau kekuatan arusnya tidak begitu ganas dan membahayakan. Demikian juga dengan naib mujur. Nasib mujur menunjukkan kekuasaannya sewaktu tidak ada kekuatan lain untuk mengendalikannya.
Catatan dari Kata Pengantar:
Machiavelli membatasi perhatiannya pada teknik perebutan dan pertahanan kekuasaan. Baginya, politik dan moralitas merupakan dua bidang yang terpisah. Dalam urusan politik, tidak ada tempat membicarakan masalah moral. Hanya ada satu hal yang penting yaitu bagaimana meraih sukses dengan memegang kekuasaan. Kaidah etika politik alternatif bagi Machiavelli adalah : “Tujuan berpolitik adalah memperkuat dan memperluas kekuasaan. Segala usaha untuk mensukseskan tujuan itu dapat dibenarkan.”
___________
Source:
Niccolo Machiavelli. Sang Penguasa : Surat Seorang Negarawan
kepada Pemimpin Republik. Terj. C.Woekirsari. Jakarta : Gramedia, 1987.