MERENGKUH KEBEBASAN

2 02 2007

Panggilan Ontologis : Menjadi Manusia Otentik

Fitrah manusia adalah menjadi manusia sejati, yakni manusia yang memiliki kesadaran diri yang mandiri, yang memungkinkannya untuk memasuki proses sejarah sebagai subyek atau pelaku yang kritis dan bertanggung jawab, yang akan pula mengantarkannya ke dalam pencarian afirmasi diri sendiri dan dengan begitu menghindarkan fanatisme. Penyimpangan atas fitrah tersebut memang merupakan fakta sejarah yang kongkrit, namun itu bukanlah fitrah sejarah; bukan suatu takdir yang tak dapat dirubah.

Maka, merubah realitas penindasan atau dehumanisasi (yang menghalangi manusia untuk menjadi manusia sejati/otentik) menuju realitas pembebasan atau humanisasi (yang melapangkan jalan untuk manusia menjadi manusia seutuhnya) –yang pada hakikatnya adalah suatu proses penyadaran (conscientization)—merupakan panggilan ontologis setiap manusia.

Dan nampaknya, perjuangan ini mustahil dapat dilakukan oleh kaum sectarian, baik Sektarian Kanan maupun Sektarian Kiri. Satu-satunya yang dapat diharapkan adalah mereka yang tergolong orang-orang Radikal. Yakni mereka yang bersikap berani untuk masuk kedalam realitas, untuk mengetahuinya dengan lebih baik dan karenanya akan dapat mengubahnya dengan lebih baik pula. Mereka tidak takut untuk berhadapan dengan apapun, untuk mendengarkan, untuk menyaksikan dunia yang terkuak di hadapan mereka. Mereka tidak akan tunduk untuk menjadi tawanan dari mitos-mitos yang hanya akan menjebaknya dalam fanatisme dan karenanya mengalienasi diri dari realitas yang sesungguhnya. Mereka tidak gentar untuk bertemu-muka serta berdialog dengan siapapun. Mereka tidak menganggap dirinya sebagai pemilik sejarah atau pemilik manusia, ataupun pembebas kaum tertindas, meski mereka selalu berjuang di pihaknya. Tapi mereka hanyalah orang-orang yang mengabdikan dirinya di dalam sejarah, sebagai manusia merdeka, mandiri, kreatif dan bertanggung jawab.

Dualitas Kaum Tertindas : Manusia Kontradiktif (Terbelah)

Situasi penindasan terbentuk melalui pola-pola perilaku yang digariskan oleh kaum penindas (the oppressor). Karena itu, perilaku kaum tertindas (the oppressed) adalah hasil pemolaan tersebut, dimana citra diri kaum penindas diinternalisasi oleh keum tertindas. Situasi inilah yang memecah kepribadian kaum tertindas. Mereka mengidap sikap mendua : Mereka tahu bahwa tanpa kebebasan mereka tak dapat mengada secara otentik, tapi mereka juga merasa takut padanya (fear of freedom). Ketakutan inilah yang mendesak mereka lebih menyukai ketenteraman dalam konformitas (kesesuaian) dengan suasana ketidakbebasan daripada mengambil langkah membentuk ikatan baru yang lahir dari kebebasan yang dapat juga merupakan usaha meraih kebebasan itu sendiri. Lebih jauh, dalam kepribadian kaum tertindas yang telah dijinakkan (domesticated) oleh struktur pikiran kontradiktif situasi penindasan, akan tertanam suatu model idaman tentang “kejantanan”, tentang figur “menjadi seorang manusia ideal”, yang menjadi manusia itu tidak lain adalah menjadi seorang penindas.

Inilah dilema yang senantiasa dihadapi dalam tahap awal tiap perjuangan pembebasan. Yakni kaum tertindas bukannya mengusahakan pembebasan dalam arti sebenarnya, tapi cenderung menjadikan dirinya “penindas kecil.” Keterlibatan mereka dalam kontradiksi dengan kaum penindas bukan atau belum lagi merupakan perjuangan untuk mengatasi kontradiksi tersebut, tapi hanya merupakan ujud identifikasi dengan sisi lawan. Pengibaratan hasilnya kemudian dari situasi ini, akan jarang sekali seorang “petani” ketika diangkat menjadi “mandor” tidak menjadi seorang “tiran” yang lebih kejam terhadap rekan-rekannya dulu dibanding “majikannya” sendiri.

Maka dari itu, perjuangan pembebasan menolak citra diri semacam ini. Kebebasan hanya diperoleh dengan direbut, bukan dihadiahkan. Dan ini adalah keniscayaan dalam rangka mencapai kesempurnaan manusiawi. Sekalipun perih. Karena kebebasan memang laksana kelahiran bayi (manusia baru) yang menimbulkan rasa sakit. Perjuangan otentik tidak berhenti pada proses identifikasi dengan sisi lawan, melainkan jauh melampauinya. Perjuangan itu membongkar perasaan takut-bebas untuk mengatasi kontradiksi yang ada sehingga tercipta situasi yang baru, dimana perasaan bebas (otonomi) serta tanggung jawab menjadi milik tiap manusia.

Praksis Pembebasan

Secara fungsional, penindasan berarti penjinakan (domestication). Ia memukau orang-orang yang berada di dalamnya, kemudian menundukkan alam pikiran mereka sehingga merasa tidak memiliki pilihan selain menerima dan menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Dengan kata lain, kepentingan kaum penindas adalah “mengubah kesadaran kaum tertindas, bukan situasi yang menindas mereka.” Kesadaran itu dimaksudkan agar kaum tertindas mudah diarahkan dan tentunya dikuasai untuk melestarikan kepentingan dan kekuasaan mereka. Karena itu, untuk keluar dari pengaruh penindasan, jalannya adalah dengan bangkit dan melawannya. Hal ini hanya dapat terwujud melalui praksis : yaitu refleksi sekaligus tindakan atas dunia untuk maksud mengubahnya.

Refleksi berisi laku-laku pemahaman (acts of cognition) terhadap realitas (jadi bukan sekedar alih-alih informasi); untuk menyingkap atau menyibak sebab-sebab yang mendasari berlangsungnya praktek-praktek penindasan. Ini kemudian membangkitkan kesadaran dan keterlibatan kritis untuk mengatasi persoalan yang ada tersebut. Disinilah, refleksi yang terlepas dari dimensi tindakannya akan menjadi verbalisme atau ‘omong kosong’, ‘bualan’. Sementara tindakan yang berlebihan, lepas dari dimensi refleksinya, akan berubah bentuk menjadi aktivisme, perubahan untuk perubahan itu sendiri, nihilis. Maka dari itu, mengada secara manusiawi sebenarnya adalah dalam proses praksis, terlibat dengan realitas, menamai dunia, mengubahnya. Dan sekali dinamai, dunia akan tampil kembali sebagai suatu permasalahan yang butuh penamaan baru lagi. Demikian seterusnya.

Perjuangan belum usai Kawan, dan nampaknya takkan pernah usai. Manusia memang tidak diciptakan dalam kebisuan.

__________

Paulo Freire. Pendidikan Kaum Tertindas”. Terj. Tim Redaksi. Jakarta : LP3ES, 2000.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar