MERUMUSKAN STRATEGI PERUBAHAN

2 02 2007

C. Wright Mills mengatakan, “Bila manusia tidak membuat sejarah, mereka cenderung semakin menjadi alat dari pembuat sejarah maupun menjadi obyek sejarah semata.” Maka, dalam hidup yang menyejarah ini, hanya ada dua pilihan : menjadi subyek atau obyek ? menjadi penentu bagi diri sendiri atau pembeo bagi orang lain ? Jika memilih yang kedua (menjadi obyek), persoalan telah selesai sampai disini. Tapi jika opsi pertama yang jadi pilihan, maka percayalah, bahwa dalam situasi yang berubah secara cepat dan berkelanjutan ini tugas membuat sejarah itu rumit dan banyak syaratnya. Sangat dibutuhkan kesabaran, kehati-hatian dan juga keterampilan dalam memilih serta menerapkan strategi yang tepat.

Perlu disadari, bahwa tidak ada satu strategi perubahan yang dapat diterapkan secara universal. Setiap situasi harus diteliti dan dinilai dengan keunikannya masing-masing. Satu situasi, sangat mungkin memerlukan bermacam-macam strategi. Disinilah dilema senantiasa menjadi kawan karib pembuat sejarah.

Langkah Pertama

Bedakan antara strategi dan taktik ! Strategi mengacu kepada rencana umum tindakan. Taktik mengacu kepada tindakan nyata dan khusus (program tindakan) yang berasal dari strategi. Satu strategi dapat dijabarkan melalui berbagai taktik.

Langkah Kedua

Tentukan target terdekat dan segera dari perubahan ! Target jangka panjang mungkin keseluruhan aspek kehidupan masyarakat. Dengan target terdekat dan segera dimaksudkan sebagai bagian dari keseluruhan, yang mana yang akan diubah terlebuh dahulu. Pilihannya bisa jadi : individu; kelompok; atau struktur sosial (?).

Jika individu sebagai target, premisnya : individu yang berubah, lebih lanjut akan mempengaruhi (turut merubah) tatanan sosial (kelompok atau organisasi) dimana individu tersebut berada. Pendekatan individual ini merupakan pendekatan yang sangat lambat. Namun bagaimanapun, tidak ada satu strategi yang sempurna. Ketika manusia menderita, semua strategi adalah penting. Perlu dicatat disini, bahwa meski individu yang menjadi target, tapi sasaran-antara yang akan dipengaruhi terlebih dahulu selalu adalah kelompok. Berdasar ide bahwa norma yang mempengaruhi perilaku tercipta dalam interksi kelompok. Disinilah lahirnya pendekatan dinamika kelompok, yang dinilai lebih efektif dibanding ceramah.

Jika kelompok yang menjadi target, asumsinya : perubahan suasana (kelompok / struktur social) akan mempengaruhi perubahan individu. Macamnya dapat berupa : dengan merubah komposisi kelompok; atau dengan mengubah proses atau struktur kelompok tersebut. Sebagaimana untuk mengubah individu perlu mengubah kelompok tempat individu itu berfungsi, begitu pula untuk mengubah kelompok perlu untuk mengubah struktur sosial dimana kelompok tersebut menjadi bagiannya. Dari sini terlihat, bahwa untuk jenis perubahan tertentu, struktur sosial itu sendirilah satu-satunya target yang tepat.

Dengan struktur sosial sebagai target, ini berarti harus memperhatikan secara lebih luas, menyebar pada beragam cara intertaksi dan suasana yang berpengaruh, tidak terbatas pada satu atau segelintir kelompok atau organisasi saja. Perubahan struktural ini dapat muncul melalui komitmen dari pihak pemerintah (seperti kasus Jepang), atau dapat pula melalui gerakan massa (seperti kasus Revolusi China), atau melalui gerakan-gerakan sosial (seperti gerakan protes Negro di AS). Jelasnya, target yang tepat tidak selalu dapat diketahui dengan mudah.

Untuk itu, pembuat sejarah perlu memikirkan target sekunder, atau mencapai target tujuan yang lebih rendah tanpa kehilangan perhatian terhadap tujuan yang sebenarnya. Gamson menyebut ini sebagai “strategi memikirkan yang kecil-kecil.” Caranya ada 2 (dua) : (1) Mengobati gejala daripada sumber penyakitnya (disebut juga “jalan pintas” Etzioni); (2) Bergeser dari upaya mengubah keseluruhan kepada upaya mengubah bagian dari keseluruhan (disebut juga “kompromi revolusioner” Harry Edwards). Cara-cara tersebut disamping mengurangi biaya sosial, juga kerap lebih disukai daripada tidak berbuat apapun terhadap masalah yang ada. Dan secara akumulatif, cara ini dapat pula menghasilkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Kata Gamson, “Kelompok yang mempunyai tujuan yang lebih terbatas, yang memperjuangkan isu tunggal, dan tak bertujuan melenyapkan antagonisme (musuh / kompetitor—pen.) mereka, lebih besar peluangnya untuk berhasil mencapai tujuannya.”

Langkah Ketiga

Tentukan agen perubahan ! Hal ini terkait dengan target yang hendak dicapai. Di tingkat individual, seperti ahli terapi, bisa dipakai teknik otoriter dan partisipatif. Di tingkat kelompok dan struktural, digunakan strategi elitis atau strategi demokratis. Tugas elit umumnya adalah mempengaruhi perubahan dengan atau tanpa keinginan orang lain yang terlibat dalam perubahan itu. Dalam strategi demokratis, elit ahli tetap terlibat, tapi bekerja bersama rakyat sehingga semua orang dalam perubahan tersebut berpeluang untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan. Tapi dalam ukuran kelompok yang bertambah besar, partisipasi aktif dapat bergeser menjadi adanya ‘jaminan’ bahwa semua kelompok yang terlibat atau mayoritas orang harus merasa bahwa kepentingan mereka terwakili secara memadai. Perubahan yang efektif harusnya memang yang demokratis, tapi dalam sejumlah studi ditemukan bahwa rezim otoriter sangatlah efektif mempengaruhi perubahan di tingkat awal modernisasi.

Beberapa hal yang perlu dicatat disini : (1) Pendekatan demokratis bukanlah satu-satunya cara tercepat untuk mempengaruhi perubahan; (2) Tidak semua partisipasi adalah partisipasi demokratis. Sebab sangat mungkin, rakyat diberi hak suara dalam suatu soal sepele tapi dibalik itu justru dimaksudkan untuk mengamankan penguasa mempertahankan kontrol atas persoalan yang jauh lebih penting dan substansial. Adapun syarat minimum untuk disebut sebagai partisipasi demokratis adalah : (a) Keputusan benar-benar diambil bersama, bukan bentuknya saja; (b) Hak politik penuh dan perwakilan untuk semua golongan; (c) Tindakan berdasarkan konsensus, bukan paksaan; (d) Adanya perencanaan (untuk kemerdekaan menurut istilah Mannheim); (3) Terdapat beberapa dilema yang patut diperhatikan : (a) Godaan untuk memilih pendekatan elit yang mendikte daripada pendekatan demokratis karena kurang sabar; (b) Mengukur seberapa jauh suatu organisasi atau gerakan mencerminkan kepentingan masyarakat luas; (c) Kecenderungan tuntutan kelas atas bentuk penghormatan tertentu (yang lebih dari kelas lainnya), meski ada komitmen terhadap struktur demokratis yang egaliter.

Langkah Keempat

Tentukan metode yang dipakai melaksanakan perubahan ! Menurut Walton, semua strategi dapat digolongkan atas dua jenis : (1) Kekuasaan; (2) Sikap. Meskipun, metode tertentu kerap menggabungkan keduanya.

Strategi kekuasaan dilakukan untuk menghasilkan konsensi (kelonggoran substantif) atau penyerahan. Strategi ini sangat keras menekankan tujuan dan perbedaan antar kelompok yang terlibat. Merekomendasikan penggunaan kekerasaan. Berupaya mengendalikan informasi dan menciptakan kebingungan bagi kelompok lain. Strategi sikap sebaliknya, secara kualitatif menghendaki peningkatan antarhubungan. Berusaha mengurangi perbedaan yang ada. Menekankan kepercayaan antar kelompok, serta menyatakan keterbukaan dan komunikasi terus-terang.

Dapatkah keduanya dicapai sekaligus ? Walton mengajukan 3 (tiga) cara mengatasi dilema dari kedua strategi tersebut : (1) Pencairan kebekuan, dimana taktik kekuasaan dan sikap saling dipergantikan, seperti hubungan timbal-balik, ketika beroleh konsensi segera diikuti dengan tawaran perdamaian dan persahabatan; (2) Organisasi atau sub kelompok yang berbeda (dengan kata lain, membelah wajah organisasi dalam beberapa kelompok kecil / divisi) untuk memainkan strategi yang berbeda demi tujuan besar yang sama; (3) Mengakui adanya perbedaan kepentingan antar kelompok dan berusaha untuk melakukan tindakan bersama yang dapat menguranginya.

Dan segera, setelah strategi dipilih, maka sejumlah besar taktik akan tersedia.

Beberapa Catatan yang layak direnungkan : (1) Semua masyarakat ditandai adanya kecenderungan dari golongan berkuasa untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kekuasaannya, serta menghalangi setiap upaya untuk mengubah pembagian kekuasaan. Karena itu, mereka yang mencoba mengubah tatanan masyarakat harus menggunakan strategi kekuasaan. (2) Setiap perubahan akan semakin kurang dapat dicapai seiring dengan menyusutnya basis dukungan yang melandasinya. (3) Strategi sikap sering dipakai jika yang jadi target adalah individu. Strategi kekuasaan biasanya digunakan dalam gerakan sosial. Kadang juga dipakai untuk tingkat yang lebih rendah, seperti mengubah aspek tertentu dari suatu institusi atau organisasi. Menurut definisi, gerakan revolusioner adalah strategi kekuasaan. (4) Saul Alinsky mendefinisikan orang Radikal sebagai orang yang menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi perubahan yang diinginkan. Ia berkata, “Orang Liberal memimpikan mimpi; orang Radikal membangun dunia yang diimpikan orang.” Ia juga berkata, “Organisasi rakyat bukan alat permainan untuk menyantuni manusia, bukan pula untuk meningkatkan pelayanan sosial …(ia adalah) organisasi berpikir dan bertindak untuk mengopersi masyarakat dan bukan sekedar mendandaninya …organisasi rakyat dipersembahkan untuk melaksanakan perang abadi. Perang melawan kemiskinan, kesengsaran, kejahatan, penyakit, ketidakadilan, keputusasaan, kehilangan harapan, dan ketidakbahagiaan … perang bukanlah perdebatan intelektual, dan dalam perang menentang kejahatan sosial, tidak ada aturan jujur-jujuran.” (5) Crozier menganalisis, di dasar semua konflik dalam organisasi, jelas terdapat sejenis pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan. Dalam konteks ini pula, mengapa setiap kelompok berusaha mempertahankan ketidakpastian (ambiguity) dalam kelompoknya sendiri (agar sulit terbaca atau “dikerjai” oleh lawan), sementara disisi lain justru berkeras mendesakkan rasionalisasi terhadap kelompok lain dalam organisasi (sehingga lebih mudah terbaca dan diramalkan), tidak lain adalah demi tujuan meningkatkan kekuasaannya sendiri dalam perjuangan tersebut. (6) Berdasarkan kondisi tertentu, penggunaan kekerasan mungkin efektif dan nampak perlu, tapi untuk kebanyakan situasi, penggunaan kekerasan lebih merupakan suatu alternatif ketimbang metode yang perlu. Lihat contohnya pada Gandhi, Martin Luther King Jr., atau Cesar Chavez.

______________

Robert H. Lauer. Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Terj. Alimandan S.U. Jakarta : Rineka Cipta, 2001.


Tindakan

Information

Satu tanggapan

12 01 2009
sony

strategi perubahan yang secara lengkap belum saya dapatkan, kalau ada informasi atau koleksi artikel/makalahnya kirim ke email saya ya… please…

Tinggalkan komentar