Deklarasi Kemerdekaan

23 07 2007

Menjadi budak bukanlah takdir yang harus disyukuri, jika manusia yang kaumaksudkan sebagai tuannya. Setiap insan terlahir merdeka, maka apa hak kita untuk memperbudak sesama? Sudah sedemikian kuasanya kita, hingga lidah ini bisa menjelma Tuhan?

Bahkan seandainya benar tongkat Musa dan singgasana Sulaiman ada dalam genggaman kita, manusia paling jelatapun tak layak untuk diperbudakkan untuk melayani dan memuaskan kesombongan dan keangkuhan mulut, perut, atau kelamin kita.

Bahkan untuk manusia yang mengingkari-Nya, Tuhan memberi hak kepada mereka untuk menumpah-serapahi-Nya.

“Maka ketahuilah wahai Fatum! Bahwa aku bukan budak raja! Jangankan dia, bahkan Tuhanpun tak berhak melarangku untuk melawannya! Karena Tuhan tak mungkin menyelisihi sumpah-Nya sendiri. Brengsek para raja! Bangsat para tuan! Meski aku harus mati, maka kematianku bukanlah kematian seorang budak. Aku adalah aku, aku menjadi tuan bagi diriku sendiri. Sekalipun dengan penuh insyaf diri, aku tak ingin menuhankan diri sendiri. Karena jika demikian, maka tak ada bedanya aku dengan para raja dan para tuan yang kulawan titahnya. Fatum, dengarlah! Aku merdeka!”